Mesasulbar.com – Mamuju, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Sulawesi Barat mengingatkan seluruh stakeholder dan masyarakat untuk mulai mempersiapkan diri menghadapi potensi bencana hidrometeorologi saat memasuki musim hujan.
Langkah antisipasi dinilai perlu dilakukan sejak musim kemarau masih berlangsung, salah satunya dengan membersihkan saluran-saluran air di lingkungan perkantoran, sekolah, permukiman, maupun fasilitas umum.
Kepala Pelaksana BPBD Sulawesi Barat, Muhammad Yasir Fattah, mengatakan berdasarkan prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), kondisi kekeringan masih berpotensi berlangsung hingga beberapa bulan ke depan. Namun, memasuki November dan Desember, sejumlah wilayah Sulawesi Barat diprediksi mulai mengalami peningkatan curah hujan hingga hujan lebat dan sangat lebat.
Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan risiko bencana seperti banjir, tanah longsor, hingga banjir rob.
“Karena itu, selagi masih musim kemarau dan kondisi masih kering, kami mengharapkan semua stakeholder, mulai dari perkantoran, sekolah, sampai perumahan, segera membersihkan saluran-saluran air,” ujar Yasir.
Menurutnya, BPBD Sulbar akan mengeluarkan imbauan kepada masyarakat agar meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi musim hujan. Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat juga nantinya akan mengedarkan arahan terkait langkah-langkah menghadapi potensi banjir dengan mempertimbangkan perkembangan terbaru prediksi BMKG.
Di sisi lain, Yasir menyebut Sulawesi Barat saat ini masih menghadapi puncak kondisi hidrometeorologi kering, khususnya pada September dan Oktober. Sejumlah titik panas atau hotspot masih terpantau, sementara kekeringan terjadi di beberapa wilayah dan suplai air semakin berkurang.
Data terakhir BPBD Sulbar mencatat terdapat 277 kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di seluruh wilayah Sulawesi Barat. Selain itu, tercatat 76 kejadian kebakaran permukiman.
Dari kejadian tersebut, luasan lahan yang terdampak kebakaran mencapai sekitar 554 hektare, sementara kawasan hutan yang terdampak mencapai sekitar 40 hektare.
Untuk membantu masyarakat yang terdampak kekeringan, distribusi air bersih juga terus dilakukan. Hingga saat ini, BPBD Sulbar telah menyalurkan sekitar 1.586.700 liter air.
Penanganan karhutla pun masih dilakukan secara maksimal dengan melibatkan berbagai unsur, mulai dari BPBD, TNI-Polri, pemerintah kabupaten, relawan, hingga pihak korporasi atau swasta.
BPBD Sulbar juga telah membentuk satuan tugas (satgas) kebakaran hutan dan lahan serta menetapkan status siaga darurat bencana.
Yasir menegaskan bahwa penanggulangan bencana bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi merupakan tanggung jawab bersama. Karena itu, seluruh pihak diharapkan ikut berperan, tidak hanya ketika kebakaran telah terjadi, tetapi juga melakukan upaya pencegahan sejak dini.
“Semua bergerak. Kita menjaga alam dan alam akan menjaga kita,” tegasnya.
Semangat tersebut, lanjut Yasir, sejalan dengan slogan BPBD Sulawesi Barat, yakni “Bersatu dalam Siaga, Tangguh Menghadapi Bencana.”
Sesuai arahan Gubernur Sulawesi Barat, diharapkan kolaborasi pemerintah, stakeholder, masyarakat, relawan, dan dunia usaha dapat semakin diperkuat sehingga risiko bencana, baik kebakaran hutan dan lahan maupun banjir dan longsor pada musim hujan, dapat diminimalkan.